Terangi hati dan pikiran, untuk kehidupan yang lebih baik

Terbaru

Cahaya Mbah Din

Langkahnya lunglai, bergoyang saat sang angin menepuk punggung kakinya.

Lemas, karena hasil yang ia harapkan belum sesuai kenyataan.

Pagar kuning runcing menjadi temannya pagi itu.

Bunga matahari di sampingnya seakan ingin menghibur

 

Mushola An-Nuur, tempat ia sering mengaji.

Mengalihkan mata dari ratapan akan kegagalan.

Teringat kembali nasehat Mbah Din setiap bada maghrib.

“Mbah ingin kamu mengingat 1 hal ini terus nduk… Selamaaa hidupmu”

 

“Kalau kamu senang, jangan terlalu senang, dan ingat bersyukur”

“Kalau kamu sedih, jangan terlalu sedih, dan ingat bersabar”

“Supaya hidupmu bisa lebih bermakna nduk”

“Masih banyak yang lebih penting buat dilakukan daripada memikirkan kesenangan dan kesedihan mu sendiri”

 

Seakan kata2 itu kembali menggema di telinganya.

Menguatkan kakinya tuk kembali berdiri tegap sekuat baja.

Mbah Din benar, Dia pun membenarkannya.

Dan kebenaran itu kini bercahaya di dadanya.

The Art of Selfasking (Special Add-ition)

Bismillah.. :)

Melihat begitu besar minat teman-teman dalam memahami dan mempraktekkan Selfasking dalam kehidupan sehari-hari, maka saya ingin sharing kembali… sekedar menambahkan beberapa bentuk Selfasking yang saya gunakan, terutama saat saya sedang dioperasi, pra oprasi dan pasca operasi :)

Tepat pada tanggal 30 Juni 2011, saya kembali ke Jakarta. niatnya sih cuma berlibur agar terapi berendam air panas ala tukang urut yang saya datangi di Bandung bisa dibantu oleh keluarga. namun keesokan harinya, saya dibawa oleh Ibu ke sebuah klinik bernama ‘Halimun Medical Center’. bukan bermaksud promosi, tapi memang tempatnya bagus. dokter, perawat dan semua karyawannya sangat bersahabat dan penuh rasa kekeluargaan. anda bisa mencarinya di kawasan manggarai.

Setelah dilakukan beberapa tes di kaki kiri saya, disentuh dan dicari sumber sakitnya, maka dokter pun berucap bahwa hal yang terjadi pada saya ini merupakan hal yang jarang terjadi. karena itu dia belum bisa memberikan jawaban, karena dia harus konsultasi dulu dengan kolega beliau di Jepang.

“Mau direndam air panas? wah jangan! nanti malah tambah lebar memarnya.. apalagi diurut.. itu ototnya yang robek bisa makin luas..”

Anda tau apa yang saya rasakan saat itu? seketika agak terkejut, lemas, dsj (dan sejenisnya)

Saat itulah saya coba menggunakan selfasking..

“Apa makna lain yang lebih baik dari ‘penyakit yang jarang terjadi’?”

seketika itulah termunculkan kata “Spesial” dalam benak saya. dan penyakit yang spesial, tentunya hanya akan diberikan oleh-Nya pada orang-orang yang spesial agar kespesialannya bertambah. (amin!)

Alhamdulillah… “kelemasan” saya pada hari itu cukup terobati.

Selepas azan maghrib hari itu, saya kembali dikejutkan oleh kabar dari dokter untuk melakukan operasi esok hari jam setengah enam pagi. akhirnya, pada malam itu juga, saya diminta untuk melakukan beberapa tes darah pra operasi. untuk hal ini, Alhamdulillah, entah mengapa terkesan biasa saja bagi saya. mungkin karena sudah biasa melakukan pekerjaan laboratorium di lab farmakologi ya? >.<

keesokan harinya, saat dioperasi, tidak begitu banyak hal yang berhubungan dengan selfasking, jadi tidak perlu saya ceritakan juga ya :) toh saya juga sedang dalam keadaan anastesi parsial… saya lebih banyak berdoa untuk kesembuhan saya pada-Nya.

Pengalaman yang paling banyak menggunakan selfasking ialah saat pasca operasi. mungkin bagi anda yang pernah dioperasi tau rasanya… ketika obat penghilang rasa sakit itu mulai menghilang efeknya, dan bekas jahitan tsb mulai terasa sakitnya. tapi bukan berarti saya menakuti anda ya… tidak.. tidak sama sekali. karena memang hal ini adalah hal yang wajar bagi pasien pasca operasi. mata saya sembat berlinang air mata saat menahan rasa sakitnya.

cengeng? tidak. karena memang begitulah rasa nya. mungkin itulah mengapa banyak orang bilang,”kalau bisa gak usah operasi deh”. tapi ketika operasi itu memang merupakan jalan satu-satunya untuk kesembuhan.. why not? daripada sakit terus, mendingan sekit sebentar lalu kemudian sembuh, bukan? :) so? don’t worry be happy aja…

malam harinya, selepas shalat isya, saya mencoba istirahat.. membaringkan kaki saya di atas tempat tidur. tetap saja rasa sakit itu muncul dan membaut saya tidak bisa tidur diam… bergerak terus menahan nya.

Saya coba menggunakan selfasking..

“Bagaimana caranya agar setiap rasa sakit ini membuat saya semakin nyaman untuk tidur?”

apa yang terjadi sahabat? ya.. agak berkurang. alhamdulillah… namun tetap saja belum bisa membuat saya tidur nyenyak hingga pukul 12 malam. seketika itu juga saya coba ke kamar kecil, dan selepasnya dari sana, saya kembali tidur dan kembali melakukan selfasking…

“Hal apa saja yang patut saya syukuri dari kejadian ini?”

Seketika itu juga begitu banyak hal yang patut saya syukuri.. muncul dalam pikiran saya… memindahkan fokus saya yang awalnya berfokus pada ‘rasa sakit’ menjadi ‘rasa syukur’ pada-Nya yang membuncah (kang muvti, saya ambil vocab nya ya :P ), dan membuat diri saya tidur nyenyak hingga pukul 4 pagi.

yup! itulah sedikit pengalaman selfasking yang bisa saya bagikan. kini saya percaya, pertanyaan terbaik, ialah ketika kita bertanya dengan pertanyaan yang tepat, dan kepada Dzat yang tepat.

You’ll never alone. Ask Allah, and Allah will give it to us. it’s Allah’s promise.

Even “Mbah” Knows That

“Mbah, saya pengen jadi pinter mbah, gimana ya caranya?”

“Beneran kamu pengen pinter?”

“Beneran mbah!”

“Beneran kamu pengen pinter dan ngelakuin apapun yang mbah suruh? meskipun mandi 7 bunga di malem jumat kliwon?”

“Beneran mbah! pasti saya lakukan!!”

“Kalau begitu mulai sekarang dan seterusnya, kamu musti………”

“Musti apa mbah?”

“Banyak BELAJAR dan BERDOA, oon!!”

The Art of Selfasking (Part 2 ~ End)

Ok! Kembali ke Laptop!

Saya ingin kembali mengutip kalimat di note sebelumnya:

Setelah kita sudah cukup mahir dalam MAWAS selftalk barulah kita bisa maju ke langkah selanjutnya untuk lebih MAHIR dalam MEREKAYASA selftalk dengan SELFASKING. apa itu selfasking?

Yes! sebelum kita membahas pertanyaan di atas, masih ingatkah dengan yang ini?

- Pertanyaan vs Pernyataan

- Stimulus vs Respon

di note sebelumnya juga?

Yes! mari kita pecahkan telur nya bersama-sama! :)

Sahabat, Selftalk sendiri punya beberapa bentuk. ada yang bentuk ikan, kupu-kupu, kura-kura dan jerapah (Plak! =,=)

hehe.. just kidding…

bentuk di sini, bukan tentang bentuk selftalk positif atau negatif, melainkan bentuk KATA dari selftalk itu sendiri.

Berdasar bentuk KATA, selftalk setidaknya, MINIMAL bisa kita bagi menjadi 2 bagian (sebenarnya saya mendapat 3, satu lagi adalah kalimat perintah, namun hal ini tidak dibahas di note ini):

1. Pernyataan

ex: Hari yang indah ini akan saya isi dengan kegiatan positif

2. Pertanyaan

ex: Kegiatan positif apa yang akan saya lakukan di hari yang indah ini?

Baik, dari kedua bentuk selftalk di atas, yang manakah menurut Anda dapat memberikan RESPON LEBIH KUAT untuk anda bertindak positif hari ini?

Seperti hal nya di note sebelumnya bahwa, PERTANYAAN memberi RESPON lebih KUAT daripada PERNYATAAN.

That’s the point!

Ketika bentuk selftalk kita dalam bentuk kata PERTANYAAN, maka selftalk tersebut mampu menjadi STIMULUS yang memberikan RESPON lebih kuat daripada PERNYATAAN. tentunya dengan respon yang lebih kuat, akan menciptakan efek yang lebih hebat untuk membentuk Belief System kita dan Karakter Diri kita, kan? betul atau betul? :)

dan Selftalk yang berbentuk pertanyaan inilah yang kita sebut Selfasking.

Dengan Selfasking, kita akan memperoleh RESPON lebih kuat dalam membentuk karakter diri kita daripada Selfstatement (pernyataan).

Karena itu, marilah kita coba latih diri ini agar lebih banyak melakukan REKAYASA pada Selftalk kita menggunakan bentuk Selfasking yang baik. mari kita lihat contoh-contoh berikut:

1. Hari ini akan banyak hal baik  yang saya lakukan–> Hal baik apa yang akan saya lakukan hari ini ?

2. Saya ingin belajar banyak dari kuliah hari ini –> Hal apa yang akan saya pelajari dari kuliah hari ini?

3. Main gamenya bentar aja ah, habis itu langsung belajar –> Berapa menit waktu yang saya perlukan untuk main game, sehingga saya lebih mudah belajar setelahnya dengan lebih efektif dan efisien? (pengalaman bro! maennya bisa kebablasan! haha)

Bagaimana? cukup mudah kan? so, yuk yuk yuk! kita mulai latihan selfasking

mulai dari diri sendiri, dari yang kecil, dan dari sekarang :D

The Art of Selfasking (Part 1)

“Kemarin Saya melewati jalan Ganesha dan ada pameran buku-buku bagus di sana”

…….

Apa yang Anda pikirkan?

Yes! beberapa mungkin bertanya-tanya…

“Kemarin itu tepatnya kapan?”

“Buku-buku apa yang dipamerkan?”

“Sebagus apa sih buku-buku nya?”

“Mahal-mahal gak?”

atau….

Malah tidak meRESPON apa-apa tentang PERNYATAAN saya di atas.

Oke, sekarang saya ganti menjadi PERTANYAAN:

“Adakah salah satu dari Anda yang melewati jalan ganesha kemarin, dan melihat pameran buku-buku yang bagus?”

Yes! Saya yakin sebagian besar dari kita akan memberi RESPON.

Memangnya ada apa dengan RESPON?

Mungkin beberapa dari kita tentu mengetahui teori Stimulus-Respon, betul? oke, kita tidak akan banyak bicara teori nya. yang penting di sini adalah Apa hubungan Stimulus-Respon dengan judul tulisan ini sebenarnya? apa itu Selfasking?

wowowow…. sabar! mari kita bahas satu-persatu ya…

Mari kita mulai dari yang namanya Selftalk. Selftalk merupakan berbicara pada diri sendiri, kalo Breadtalk, merupakan toko roti. (lho?) hehe.. just kidding.

Setiap hari kita ternyata kita memiliki selftalk 55.000-65.000 selftalk sehari. WOW!!

dan yang lebih WOW!! nya lagi adalah, ternyata 60% nya adalah selftalk negatif. WOW!! Banget kan?

dan yang lebih lebih lebih WOW!! lagi adalah, “Belief System” kita memang kebanyakan dipengaruhi oleh Selftalk yang kita miliki.

dan Belief System inilah yang menentukan karakter kita.

Selftalk positif –> Belief system positif –> Karakter positif

Selftalk negatif –> Belief system negatif –> Karakter negatif

dan sekarang tentunya kita semua tahu apa yang harus kita lakukan kan? :)

melihat kenyataan di atas, mungkin jadi muncul pertanyaan, “Bagaimana mengatur selftalk agar senantiasa positif?”

Yes! kita bisa mengatur selftalk (baca: selftalk yang terdeteksi) agar senantiasa positif. setidaknya dengan kita lebih mawas diri, kita bisa meningkatkan jumlah selftalk yang bisa kita deteksi. plis deh! 65.000 selftalk sehari gitu! mau di deteksi semua? hehe..

dengan mawas diri itulah kita bisa MEREKAYASA selftalk kita agar senantiasa positif.

pas hujan… “Duh hujan!!”  eiits! kemawasan diri kita meningkat dan kita REKAYASA selftalk kita, “Wah, justru kalo hujan-hujan gini kamar Gua jadi lebih adem nih! jadi bisa lebih enak tidur siangnya… hehe…”

Yes! itu merupakan salah satu bentuk REKAYASA yang bisa kita lakukan. atau istilah kerennya adalah Selftalk Engineering (hoho…)

Yang jelas, meningkatkan MAWAS diri adalah langkah PERTAMA menuju perubahan selftalk yang lebih positif, lalu dilanjutkan dengan melakukan REKAYASA pada selftalk tersebut.

Setelah kita sudah cukup mahir dalam MAWAS selftalk barulah kita bisa maju ke langkah selanjutnya untuk lebih MAHIR dalam MEREKAYASA selftalk dengan SELFASKING. apa itu selfasking?

Jangan penasaran ya :)

(to be continue)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.